LEMAHNYA INFORMASI BERBASIS DUA VARIABEL SAJA

Tulisan ini diambil dari akun Facebook bapak Tanadi Santoso yang memaparkan bahwa informasi berbasis dua variabel tanpa terkoreksi oleh variabel lainnya akan berpotensi kuat untuk menimbulkan bias kesimpulan. Berikut adalah tulisan selengkapnya.

M3: Data, statistik, dan korelasi

Sebuah team di Amerika melakukan riset pada banyak karyawan yang sering keluar dari ruang kerjanya sebentar2 saat hari kerja, dan di bandingkan dengan yang tidak pernah istirahat keluar. Ternyata hasilnya adalah orang2 yang sering keluar ruang kerja itu, dalam 5 tahun kedepan, 41 persen lebih sering kena kanker daripada yang tidak keluar ruang kerja.

Dari data diatas, apakah dapat disimpulkan kalau sering keluar sejenak dari ruang kerja menyebabkan kanker? Bila semuanya benar, dimana letak kesalahan analisanya?

Ternata, setalah diamati lebih dalam, data itu benar, tetapi yang tidak terlihat adalah orang2 itu keluar ruang kantor adalah untuk merokok. Jadi lebih mungkin, rokok lah yang menyebabkan lebih banyak terjadinya kanker, bukan keluarnya dari ruang tersebut.

Dalam memahami data, kita sering kurang hati2, sehingga jadi salah dalam menyimpulkan sesuatu hubungan sebab akibat.

Ketika dihitung hubungan antara jumlah kejahatan disuatu lokasi populasi, ternyata berbanding lurus dengan jumlah polisi yang ada. Apakah bila jumlah polisi kita kurangi maka kejahatan akan berkurang? Ternyata alasan yang lebih benar adalah karena sering terjadi kejahatan jadi lebih banyak polisi di rekrut atau dipindahkan kesana.

Apakah mahasiswa dengan IPK 3.5 lebih pandai dari yang lulus dengan IPK 2.9? Tentu masih tergantung apa kampusnya sama, pelajaran yang dipilih punya tingkat kesulitan yang sama, jurusannya apa, dan seterusnya.

Statistik adalah sebuah ilmu yang sangat penting dan berguna, data sangat penting dalam memahami keadaan, walau bukan pasti benar dan tepat, tetapi setidaknya memberikan sebuah kemudahan pemahaman buat semua orang. IPK 3.5 dengan jurusan dan kelas yang sama dengan IPK 2.9, tentu setidaknya membuktikan orang tersebut lebih baik. Satu angka IPK bisa memudahkan orang memahami dulu “sepinter” apa orang itu saat kuliah.

Angelina Jolie berani melakukan operasi ketika dia tahu bahwa secara statistik dia memiliki kemungkinan 98 persen terkana kanker payu dara atau ovary. Pastikah statistik? Tidak! Tetapi statistik yang baik memudahkan banyak hal dengan unsur ketepatan yang tinggi, seperti Quick Count pada pemilu yang mampu secara cepat memberikan hasil sementara yang cukup presisi.

*Tanadi Santoso. Surabaya, 25 November 2013.

About stcmalang

Kami Lahir, sebagai lembaga training statistik yang melayani Mahasiswa S1, S2 dan S3.Berdiri sejak 1997,Lembaga ini di gawangi oleh Arif Kamar Bafadal, S.Si. M.Si Alamat Kantor : Jalan Soekarno Hatta DR 09 Malang Telp.(0341) 8424 000 Motto kami: Belajar Mengolah Data Mulai Dari Nol Semua Pasti Bisa Mengolah Data Sendiri
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s