BUAH MANGGA DAN KONSEP HUBUNGAN REFLEKSIF

manggaBelajar model pengukuran (measurement model) dalam SEM dan PLS, pasti akan berjumpa dengan konsep hubungan indikator dan kontruk laten yang bersifat refleksif atau formatif. Tulisan ini menyinggung soal hubungan reflektif. Terjemahan paling mudah dari terminologi refleksif adalah : cerminan atau pantulan. Simak penjelasan berikut.

Semua orang tentu mengenal buah mangga. Pertanyaannya adalah bagaimana seseorang bisa mengenal buah tersebut dalam kondisi matang tanpa harus mengupas terlebih dahulu? Apa bisa? Tentu bisa, karena gejala-gejala kematangan buah bisa diukur.

Buah yang sudah matang akan mengeluarkan aroma yang keras, teksturnya pun sudah tidak keras. Penampilan warna buah mangga matang juga berubah menjadi hijau tua. Perubahan ini terjadi dalam proses kematangan buah akan dihasilkannya gas ethylene yang akan membuat perubahan warna, ukuran, tekstur, rasa, dan aroma.

Perubahan warna merupakan salah satu indikasi tingkat kematangan buah yang paling mudah dijadikan ukuran. Akan tertapi untuk menentukan buah matang dengan lebih baik, warna saja tidak cukup menjadi petunjuk yang bisa diandalkan, perlu indikator lain misalnya aroma, tekstur (tingkat kekerasan buah) dan berat.

Aroma bisa menjadi petunjuk rasa. Perubahan kimia terjadi dalam proses pematangan buah-buahan yang menyebabkannya menghasilkan aroma lezat yang berasal dari senyawa volatil. Tekstur yang lembut menjadi pertanda buah matang. Untuk mengetahui buah matang atau belum, dibuktikan dengan meremasnya secara lembut. Pengetesan dengan cara diremas ini sangat berguna untuk buah tidak berkulit keras atau tebal. Terakhir, ketahui berat buah karena bisa menjadi indikator yang baik bila buah itu sudah matang.

Coba dicermati bagaimana indikator-indikator kematangan buah (warna, aroma, tekstur dan berat) itu bekerja sebagai pengukur kematangan. Hubungan keempat indikator ini terhadap kematangan bersifat refleksif. Artinya buah mangga yang matang akan menghasilkan warna hijau tua, aromanya semakin keras, tekstur melunak dan berat bertambah. Dalam pemodelan SEM arah garis adalah dari konstruk kematangan menuju ke indikator. Bukan sebaliknya (panah dari indikator ke konstruk), karena maknanya menjadi salah.

Cerita tentang mangga ini bisa menjadi jembatang untuk mengenal konsep refleksif secara mudah. Selain itu untuk bisa memilih apakah hubungan yang tepat adalah refleksif perlu dibangun beberapa pertanyaan pendukung.

Pertanyaan awal adalah, apakah keempat indikator tersebut adalah hasil dari kematangan buah? Apakah keempat indikator tersebut memiliki korelasi yang cukup tinggi? Apakah pada keempat indikator apabila tidak terukur pada salah satunya tidak berdampak pada proses pengukuran kematangan? Bau, warna, tekstur dan berat semua adalah hasil dari buah yang matang. Keempatnya juga memiliki korelasi yang cukup tinggi, buah matang akan berwarna lebih tua (hijau tua, kuning tua, merah tua), disertai bau yang lebih keras dan lebih empuk. Sehingga apabila sebagian dari keempat indikator tersebut terukur maka sebenarnya pengukuran kematangan buah tersebut sudah bisa dilakukan.

About stcmalang

Kami Lahir, sebagai lembaga training statistik yang melayani Mahasiswa S1, S2 dan S3.Berdiri sejak 1997,Lembaga ini di gawangi oleh Arif Kamar Bafadal, S.Si. M.Si Alamat Kantor : Jalan Soekarno Hatta DR 09 Malang Telp.(0341) 8424 000 Motto kami: Belajar Mengolah Data Mulai Dari Nol Semua Pasti Bisa Mengolah Data Sendiri
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s